My Life Story

 








"Hidupku sepi, oleh karena itu aku mengejar prestasi."

Mungkin itu adalah kalimat yang bisa menggambarkan tentangku di masa lalu.

Hai, namaku Repi Melani. Aku merupakan anak ke empat dari lima bersaudara. Di tahun ini usiaku genap 20 tahun. Sebuah usia yang tidak pernah aku sangka bisa mencapainya karena dulu sempat sangat putus asa. Tapi Alhamdulillah Allah Maha Baik memberikanku kesempatan untuk terus hidup di dunia. 

Aku berasal dari keluarga yang sangat sederhana, tetapi pekerja keras. Bagaimana mungkin orangtuaku yang pendidikannya saja tidak tamat SD bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai S1? Kata mereka, "Dulu mamah bapa tidak bisa sekolah, makanya sekarang harus banting tulang. Kalian tidak boleh seperti itu, kalian harus sekolah yang tinggi biar bisa mengangkat harkat martabat kami." Karena didikan mereka aku pun terbentuk menjadi pribadi yang pekerja keras dan berprinsip kuat. 

Tetapi sejak kecil, aku selalu merasa seperti seorang penonton dalam hiruk-pikuk persahabatan. Selalu merasa diabaikan dan terasingkan. Setiap kali melihat teman-teman bermain bersama, hatiku terasa sepi. Namun, di balik rasa kesepian itu, ada api semangat yang terus membara. Aku menemukan pelarian dalam prestasi. 

Semenjak SD aku sering diikutsertakan dalam perlombaan. Tiap kali mengikuti perlombaan, aku merasa hidup. Meskipun seringkali pulang dengan tangan kosong, semangatku tak pernah padam. Aku bertekad untuk membuktikan bahwa aku bisa. Satu-satunya mimpi realistis yang ingin aku capai adalah menjadi juara pertama di tingkat Kabupaten. 

Enam tahun berlalu, dan akupun melanjutkan sekolah ke SMP. Namun masih kurasakan sepi dan sendiri itu. Teman-temanku pada saat itu sedang nakal nakalnya, tetapi aku selalu berusaha untuk menjadi anak baik seperti ajaran orangtuaku. Oleh sebab itu aku terasingkan dari pertemanan. Bahkan ketika kelas 8 guru-guruku pernah menawariku untuk pindah kelas saja, takut aku down jika terus di kelas itu. Tapi aku tidak mengambil tawaran itu, yasudahlah mungkin ini takdir yang akan membentuk aku.

Tiga tahun di SMP aku habiskan untuk mengikuti Olimpiade di berbagai mata pelajaran, dan sayangnya impianku belum terwujud. Prestasi tertinggiku hanya sampai peringkat 7 saja. Namun patah hatiku sedikit terobati karena aku terpilih menjadi wakil ketua OSIS pada saat itu. Yang tidak disangka-sangka merupakan awal dari penderitaanku. Pada saat itu bakal calon ketua OSIS yang dikalahkan olehku adalah teman sekelasku. Wajar ketika dia kalah, teman sekelas menjauhiku. Menyakitkan sekali, tapi yasudahlah. Lebih baik baik aku obati dengan prestasi. Dan usahaku berhasil, aku berhasil menjadi juara 4 di Olimpiade mata pelajaran lain, dan menjadi siswa pertama di sekolah yang mendapatkan nilai tertinggi pada Olimpiade matematika.

Selain itu, aku memperdalam ilmu agamaku. Aku mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, aku mulai belajar cara berpakaian yang baik, cara berbicara yang baik, dan lain sebagainya. Dengan cara itulah aku bisa mengalihkan semua kesedihan dan kekosonganku selama di sekolah. Tapi hal itu juga yang menjauhkanku dari mereka. Mereka main, aku tidak. Mereka pacaran, aku tidak. Mereka tidak mengerjakan tugas, aku mengerjakan. Hufttt, serba salah. Rasanya semua usahaku tetap berbuah kesepian. 

Selama berbulan-bulan aku habiskan waktu untuk belajar dalam rangka menghadapi UN. Kerja kerasku tidak sia-sia, ketika pelepasan kelas 9, aku dipanggil tiga kali ke atas panggung untuk mendapatkan penghargaan juara umum, siswa dengan nilai UN tertinggi di sekolah dan siswa terbaik angkatan tersebut. Bahagia? Tentu. Segala sakit hatiku seketika terbayar dengan senyuman bangga ibuku melihat anaknya bisa di titik itu.

Setelah puas bersekolah di sekolah negeri, hatiku tergerak untuk masuk ke pesantren. Namun orang tua tidak mengizinkan, jadi kuputuskan saja untuk bersekolah di MA. Jujur saja aku berpikir kalau di MA orang-orangnya semua akan baik, tapi ternyata tidak. Baru sehari masuk, aku sudah di bully. Mungkin karena aku memang pendiam, dan pakaianku juga sangat tertutup. 

Aku masih ingat sekali ketika hari pertama masuk sekolah aku dilempar buku oleh teman sekelasku, dia menyuruhku untuk mengerjakan tugasnya. Aku juga ingat ketika seseorang sengaja memakiku dengan sebutan "bodoh" di depan banyak orang. Mereka juga mengolok-olok pakaianku dan memanggilku dengan sebutan "ukhty". Dan yang paling membekas adalah ketika aku diabaikan, tidak didengarkan ketika berbicara dan tidak dipandang oleh siapapun. Tidak dianggap itu rasanya sakit sekali, dan aku nggak tau salahku dimana. 

Lama kelamaan aku berhasil berdamai dengan diri sendiri dan mulai fokus belajar. Aku menjadi siswa yang aktif di kelas, sehingga menjadi "anak kesayangan" guru-guru disana. Perlahan teman-teman yang mengabaikanku mulai mendekati. Kukira mereka tulus berteman, tetapi ternyata hanya memanfaatkan. Tidak semua seperti itu, tapi sebagian besar hanya baik ketika ingin contekan atau butuh bantuan, setelah selesai mereka kembali mengabaikan. Bahkan ketika aku sakit parah saja, tidak ada yang menjenguk atau menanyakan kabar, mereka hanya menghubungi ketika mereka butuh contekan saja dan yang paling parah tidak pernah terucap kata "terimakasih" sekalipun. Mereka berlalu ketika apa yang mereka inginkan dapatkan. Sakit sekali rasanya. 

Tiba-tiba aku sakit parah, sampai rasanya mau meninggal pada saat itu juga. Namun ketika pergi ke dokter, aku tidak apa-apa, semuanya sehat. Tapi sungguh, rasanya sakit sekali dan aku tidak kuat. Akhirnya orangtuaku mengajak ke ustadz untuk di ruqyah. Dan tidak cukup sekali, aku pergi ke banyak ustadz untuk disembuhkan karena rasa sakitnya masih sering kambuh lagi. Alhamdulillah pada tahun 2020 aku sembuh. Aku sangat trauma untuk pergi ke sekolah, dan sempat berpikir untuk pindah saja. Tapi Maha Baik Allah yang mendatangkan sebuah pandemi. Sehingga aku tidak perlu ke sekolah. 

Pada waktu itu beberapa kali aku ikut KSM, namun sayang bukan mata pelajaran kesukaanku jadi aku tidak juara. Dan harapanku untuk bisa juara 1 di tingkat Kabupaten pun sirna. Namun, Allah lagi lagi Maha Baik, aku lolos seleksi menjadi perwakilan sekolah dalam lomba Speech English Contest, yang dilakukan secara online. Dan masyaa Allah tabarakallah akhirnya aku juara 1. Akhirnya aku bisa merasakan ditonton banyak  orang di youtube dan bisa mewujudkan impianmu selama ini. Aku bangga pada diri sendiri. 



Waktu berlalu dan pandemi berakhir dan akupun harus masuk sekolah lagi meskipun rasanya setiap masuk ke sekolah yang kurasakan hanya takut, rasa sakit dan penderitaan. Bahkan aku sempat kena "pannick attack" tapi yasudahlah, mari kita lanjutkan perjalanan ini sampai lulus walaupun berat sekali rasanya. 

Dan lagi lagi Maha Baik Allah, aku ditunjuk menjadi perwakilan angkatanku untuk berpidato ketika acara kelulusan. Aku sangat senang, itu merupakan momen yang tidak akan pernah aku lupakan. Karena aku bisa maju ke depan dengan berani melewati orang-orang yang telah menyakitiku. 


Setelah lulus, aku langsung mendaftar kuliah di STAI Siliwangi. Aku berusaha untuk melupakan semua kejadian semasa sekolah, tapi sulit. Aku sangat ketakutan untuk berteman dengan siapapun, namun Alhamdulillah aku ditempatkan di kelas yang orang-orangnya Masyaa Allah. 


Aku baru merasakan "diperlakukan sebagai manusia" disini. Alhasil aku pun terlalu terhadap mereka. Terlalu sayang, terlalu berharap, terlalu percaya, terlalu banyak bicara dan terlalu bergantung. Hingga aku lupa bahwa manusia akan mengecewakan pada waktunya. 

Namun di tempat ini aku bisa menyembuhkan satu lukaku. Dulu di sekolah yang selalu jadi "pengantin" itu adalah orang yang berprestasi. Tapi di zamanku adalah orang-orang yang good looking. Cantik, tinggi dan putih, tidak sepertiku. Alhasil aku tidak pernah merasakannya padahal aku ingin. Dan alhamdulillah impianku terwujud lewat praktek UAS Fiqih Munakahat. Aku sangat bahagia sekali, momen ini juga tidak akan pernah aku lupakan. 


Sejak lulus juga aku mengajar di salah satu PAUD. Awalnya sangat bahagia, tapi lama kelamaan aku merasakan orang-orang sekitarku toxic. Lagi-lagi aku dimanfaatkan, diabaikan, dicurangi dan sering dibohongi. Aku pun memutuskan untuk keluar. 

Hufttt, lelah sekali rasanya. Sangat melelahkan. Sampai ke titik ini rasanya sangat tidak mudah. Dan perjuangan ini akan terus berlanjut. Saat ini, aku hanya menjalani apapun yang Allah takdirkan seperti air yang mengikuti arusnya. Aku pasrah saja dengan apapun yang terjadi. Aku belajar menjadi perempuan tenang yang pandai meregulasi emosi. Aku juga sedang belajar menjadi manusia bijak yang selalu melihat hal baik di setiap kejadian. Dan yang paling penting, aku belajar untuk berdamai dengan diri sendiri. Memaafkan apapun yang menyakiti dan berusaha untuk tidak terlalu ambil hati. Semoga aku bisa, ya. 

Ah, aku ini selalu saja begini. Terlalu oversharing dan berlebihan. Aku menceritakan ini bukan karena ingin dikasihani bukan pula merasa paling sakit, tapi aku ingin menunjukkan bahwa seseorang yang kamu anggap kehidupannya sempurna, pasti punya sisi lain yang tidak pernah terduga, bahwa seseorang yang selalu tertawa pasti punya sisi yang membuat dia terluka.

Sekian, semoga kita segera di beri kebahagiaan yang tidak pernah kita duga. Aku percaya, setelah badai yang hebat, akan ada pelangi yang sangat indah. Setelah malam yang gelap, akan datang pagi yang cerah. 

Komentar